Dakwah Nabi Muhammad Periode Makah


DAKWAH NABI MUHAMMAD PERIODE MAKAH
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata kuliah: Sejarah Dakwah
Dosen Pengampu: Agus Riyadi, M.S.I
logo uin smg

Disusun oleh :
1.      Yufi Ferdiansyah       (1701036096)
2.      Amalia Zakiyah         (1701036097)
3.      Ridwan Wijaya          (1701036098)
4.      Cantika Diah Pralita   (1701036099)



MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2018




BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sejarah pertumbuhan dan perkembangan peradaban Islam dimulai pada masa dakwahnya Rasulullah Saw. dimana beliau menegakkan panji-panji Islam dengan akhlak beliau yang memiliki kepribadian luhur, pantang menyerah serta gigih dalam menghadapi segala masalah, cobaan dan rintangan demi tegaknya syariat Islam. Dalam sejarah perkembangan Islam ini, jejak Rasulullah mengalami dua periode, yaitu periode di Makah dan periode di Madinah selama kurun waktu 23 tahun. Selama itu Rasulullah mampu membersihkan seluruh unsur kemusyrikan dan menegakkan ajaran Islam secara murni dan utuh. Hal ini telah membuktikan gigihnya Nabi Muhammad dalam berdakwah. Keyakinan beliaulah yang teguh bahwasannya Allah SWT pasti selalu membimbing dan membantunya, karena itulah beliau Rasulullah menjadi sosok revolusioner yang sulit dicari bandingannya. Agama Islam  yang dibawa oleh makhluk pilihan terbaik ini sebagai agama penyempurna bagi agama-agama sebalumnya, sekaligus penutup bagi nabi terakhir. Sayangya pada masa sekarang ini pengetahuan tentang hal ini sudah mulai luntur, terutama pada para kaum muda. Pengulasan materi mengenai sejarah Nabi Muhammad ini diharapkan bisa mengingat kembali bagaimana perjuangan-perjuangan beliau dan para sahabat dan mencontoh dalam sikap beliau selama masih hidup serta sebagai pembelajaran untuk pedoman kita dalam sehari-hari.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana asal keturunan Nabi Muhammad SAW?
2.      Bagaimana kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul?
3.      Bagaimana pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul?
4.      Bagaimana dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah?
5.      Apa substansi dakwah Rasulullah SAW?






BAB II
PEMBAHASAN
1.      Asal Keturunan Nabi Muhammad
Nabi Muhammad SAW lahir dari keturunan bangsawan kabilah Quraisy. Beliau memiliki silsilah yang jelas sebagaimana layaknya keluarga Arab terhormat pada masa itu. Beliau sendiri menyatakan bahwa keturunannya adalah keturunan pilihan di antara kabilah-kabilah Arab, yaitu keturunan Ibrahim dan Ismail, dari keturunan Ismail terpilih Kinanah, dari keturunan Kinanah terpilih Quraisy, dari keturunan Quraisy terpilih Hasyim dan dari keturunan Hasyimlah beliau lahir. Tetapi beliau hanya mengakui susunan silsilahnya sampai dengan Adnan. Tentang silsilah keturunannya dari Adnan sampai dengan Ismail tidak dapat dipastikannya.
Ayahnya adalah Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luayyi bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khusaimah bin Nizar bin Mu’ad bin Adnan. Ibunya adlah Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah dan seterusnya mengikuti garis keturunan dari pihak ayahnya, karena pada nenek kelima bertemu garis keturunan vertikal antara ayah dan ibu.
Abdullah adalah putra kesayangan Abdul Muthalib. Beliau kawin dengan Aminah binti Wahab dalam usia sekitar 24 tahun. Keduanya adalah pasangan yang sekufu dan serasi, pemuda tampan dan gadis jelita. Abdul Muthalib dan Wahab menurunkan keluarga yang terpandang di kalangan kabilah-kabilah Arab. Abdullah yang berarti ‘hamba Allah’ adalah nama pilihan yang tidak pernah digunakan sebelumnya. Ia pernah akan dikorbankan sebagai penerus nazar. Abdul Muthalib bernazar apabila ia mempunyai anak lelaki sepuluh orang maka salah seorang akan dikorbankan kepada berhala-berhala di hadapan Ka’bah. Nazar ini ditebus dengan menyembelih 100 ekor unta sebagai gantinya. Ini dilakukan atas pertimbangan, langkah Abdul Muthalib itu kelak akan diikuti pula oleh warga Quraisy di kemudian hari, karena beliau adalah wali negeri yang dijadikan ikutan dan disegani oleh segenap penduduk Makkah.
Nasab Nabi Muhammad disandarkan pula kepada bangsa Quraisy. Quraisy menurut pengertian bahasa dari Qirsyum yaitu anjing laut yang memiliki ketajaman gigi dan kecerdikan. Atau dari kata Qarasya artinya pencaharian yang diperoleh dengan cara berdagang. Atau Taqarrasya yang menyelidiki kekurangan orang lain.
Quraisy adalah gelar yang diberikan kepada anak cucu Kinanah yang berhasil mempertahankan Ka’bah dari serbuan keturunan Himyar dari negeri Yaman. Ada dua orang yang disebut ahli sejarah sebagai pemilik Quraisy itu. Nadir bin Kiananh dan Fihr bin Malik bin Nadir. Etapi kebanyakan cenderung kepada yang kedua yaitu Fihr. Fihr selain berhasil mengusir bala tentara Yaman juga terkenal sebagai pedagang dengan memanfaatkan kedatangan orang-orang yang menziarahi Ka’bah. Di samping itu, ia suka pula meladeni kebutuhan penziarah-penziarah itu, menjamu dan memberinya air dan makanan. Atas sifat yang terpuji itu maka Fihr terkenal dengan gelaran “Quraisy” yang lama kelamaan menjadi nama bangsa yang saddanah al-ka’bah atau penjaga dan pemelihara Ka’bah.
Nama Quraisy menjadi lebih harum di tangan Qusai bin Kilab yang menjadi penguasa tanah Hijaz dan sekitarnya setelah melakukan peperangan yang berlarut-larut dengan bani Khuzaah. Peperangan itu di akhiri dengan perdamaian di mana Qusai yang menjadi penengahnya. Keputusan yang penting dari perdamaian itu adalah kunci Ka’bah dan pemeliharannya dikembalikan kepada keturunan Ismail yakni ke tangan Qusai. Dan semenjak saat itulah Makkah dan sekitarnya di bawah naungan bangsa Quraisy.[1]
2.      Kehidupan Muhammad sebelum Kerasulan (572-611 M)
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah pada hari Senin, 20 April 571 M/12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah, tahun ketika pasukan gajah Abrahah menyerang Makkah untuk menghancurkan Ka’bah, namun pasukan Abrahah mengalami kehancuran. Merupakan suatu kebiasaan di antara orang-orang kaya dan kaum bangsawan Arab bahwa ibu-ibu itu tidak mau menyusui dan mengasuh anak-anak mereka. Kehidupan Nabi Muhammad sebelum Kerasulannyak. Nabi disusui oleh Tsuwaibah dari keluarga Badwi dan yang kedua oleh Halimah binti Abu Duaib dari Bani Saad. Sebagaimana Muhammad diasuhkan kepada perempuan desa yang bernama Halimah Sa’diyah. Masa kecil beliau berada di pedesaan dengan turut mengembalakan kambing bersama dengan Halimah yang mengasuhnya. Setelah kurang lebih empat tahun dalam asuhannya, Muhammad dikembalikan kepada ibunya. Selama dua tahun bersama ibunya, pada usia 6 tahun Muhammad sudah kehilangan kedua orang tua. Ketiadaan kedua orang tuanya, seakan dirinya telah dipersiapkan untuk mandiri dalam mengemban tugas menyampaikan risalah agama yang terakhir.
Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad. Namun dua tahu kemudian, kakeknya meninggal dunia pada usia 80 tahun. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya yang bernama Abu Thalib. Abu Thalib mencintai kemenakannya itu sama seperti anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, berbakti dan baik hati, itulah yang menarik hati pamannya. Maka kehidupannya bersama pamannya, telah dilaluinya dengan penuh berbagai pengalaman. [2]
Pada usia 12 tahun, Muhammad belajar mengembala kambing, salah satu tradisi sangat bermanfaat untuk menumbuhkan karakter psikologi bagi seorang pemimpin. Muhammad juga ikut belajar dagang bersama kafilah pamannya ke Syria, sehingga secara tidak langsung beliau belajar dan menyaksikan berbagai tradisi dan corak kehidupan masyarakat di luar kabilah Arab. Perjalanan ini mempunyai pengaruh besar dalam tingkah laku dan cara hidupnya. Sebagai pedagang, Muhammad menjadi terkenal atau masyhur karena baik dan jujur, yang merupakan sikap dan prinsip hidupnya sejak masa kanak-kanak.
Ketikau beliau berusia 25 tahun, beliau membawa dagangan milik seorang pedagang kaya raya bernama Khadijah binti Khuwailid yang berusia 40 tahun ke Syria. Kepandainnya berdagang dan akhlak yang bagus, menarik hati Khadijah binti Khuwailid. Setelahnya beliau menikah dengannya. Muhammad dikarunia 6 orang anak, dua laki-laki yaitu Qasim dan Abdullah, empat perempuan yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum, dan Fatimah.
Peristiwa penting yang memperlihatkan salah satu kebijaksanaan Muhammad adalah ketika berumur 35 tahun, dimana terjadi banjir dahsyat dari gunung yang mengelilingi Ka’bah. Setelah kurang lebih 200 tahun Ka’bah tidak pernah mengalami kerusakan berarti, dengan terjadinya banjir besar itu tak satu pun rumah di Makkah selamat dari kerusakan. Dinding Ka’bah mengalami kerusakan, sehingga kabilah Quraisy memutuskan untuk membangun Ka’bah walau dengan rasa was-was. Ketika dinding Ka’bah telah dibangun setinggi batas orang berdiri, Hajar al-Aswad akan diletakkan pada tempatnya semula. Perselisihan muncul di kalangan masing-masing pemimpin suku, yang merasa bahwa tidak ada suku lain yang pantas melakukan perbuatan mulia ini kecuali sukunya sendiri. Karena pertikaian ini, maka pekerjaan konstruksi tertunda lima hari. Melihat kondisi yang tidak baik ini, seorang tua yang disegani di antara kabilah Quraisy, yaiu Abu Umayyah bin Mughirah al-Makhzumi, mengumpulkan para pemimpi Quraisy dan menyarankan agar menerima keputusan siapa pun yang pertama kali masuk melalui bab al-salam, yaitu pintu di depan Shafa. Mereka semua menyetujui gagasa ini, dan tatkala tiba-tiba Muhammad muncul dari pintu, mereka menyepakati dengan senang hati. Untuk menyelesaikan pertikaian itu, Nabi meminta mereka menyediakan selembar kain. Beliau meletakkan Hajar al-Aswad di atas kain itu dengan tangannya sendiri, kemudian meminta tiap orang dari suku Makkah memegang setiap ujung kain itu. Ketika Hajar al-Aswad sudah diangkat ke dekat pihar, Nabi meletakkannya pada tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan begitu, pertikaian di antara kabilah Quraisy bisa terhindar karena kebijaksanaan Muhammad yang selanjutnya beliau digelari Al-Amin, gelar Muhammad yang artinya orang yang dapat dipercaya.[3]
3.      Pengangkatan Muhammad Menjadi Rasul
Ketika Rasulullah SAW berusia 40 tahun, Muhammad sering berkhalwat di gua Hira, pada Jabal Nur, yang terletak sekitar 6 km di sebelah timur laut kota Makah. Beliau menjauhkan diri dari keramaian masyarakat dan mencari ketenangan. Merenung atau bertafakur tentang keaadaan masyarakatnya yang semakin merosot akhlak dan keyakinannya. Berkhalwat adalah suatu kebiasaan yang berdasar pada syariat peninggalan Nabi Ibrahim.
Pada tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum Hijriyah, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, beliau didatangi  pleh seorang yang belum dikenalinya. Rasa terkejit beliau hilang, tetapi pada saat yang bersamaan orang asing itu mengatakan, bahwa beliau adalah Utusan Allah dan diperintahkan untuk membaca.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengerjakan dengan pena. Yang mengajar manusia apa yang mereka tidak ketahui”.
Kalimat-kalimat yang didengar it uterus menghujam dalam dadanya, dan terus diingatnya, yang dikenal dengan surah Al-Alaq: 1-5. Beliau bersegera pulang ke rumah, peristiwa menakutkan dan dahsyat yang dialami tersebut diceritakan pada istrinya Khadijah binti Khuwailid. Istrinya terperanjat dan memintanya tidur dan segera menyelimutinya. Setelah itu istrinya meninggalkan Nabi yang tertidur dan menyatakan pada pamannya, Waraqah bin Naufal, seorang ahli Tauratdan Injil. Ketika Nabi Muhammad SAW telah terbangun dari tidurnya Khadijah binti Khuwailid memepertemukannya dengan pendeta Waraqah bin Naufal. Setelah mendengar cerita Muhammad, Waraqah bin Naufal menegaskan bahwa yang datang adalah malaikat Jibril dan pendeta Waraqah bin Naufal menenangkan hati Nabi dengan menegaskan bahwa beliau telah diangkat sebagai Rasul.
Berikutnya Nabi Muhammad SAW telah menjadi Rasul, menunggu dan merindukan kedatangan kembali malaikat Jibril. Sampai pada suatu saat, beliau sedang berjalan-jalan tiba-tiba terdengar suara yang pernah di dengarnya, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasulullah yang benar”. Nabi Muhammad menoleh kea rah suara yang didengar itu, dan tampaklah Jibril yang pernah mendatanginya di Gua Hira dahulu. Kembali lagi sekujur tubuh Nabi gemetar, karena itu beliau bergegas pulang. Setiba di rumah, beliau meminta Khadijah untuk menyelimuti, dan saat itu juga turun wahyu kedua seperti tercantum dalam surah Al-Mudatsir: 1-79. “Wahai orang yang berselimut, bangun dan sampaikanlah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu dan pakaianmu hendak kau bersihkan, dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan kau memberi, karena ingin menerima lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkanlah hatimu”.
Mulai saat itu Muhammad diangkat sebagai Rasul yang berkewajiban untuk mengajak umat manusia kepada kebenaran dan dan menyelesaikan tugas yang berat ini dengan menyampaikan risalah yang diberikan kepadanya. Tugas Rasul ini berbeda dengan Nabi lain yang tidak diwajibkan menyerukan risalah Allah yang telah diwahyukan kepadanya.[4]

4.      Dakwah Nabi Muhammad di Makkah
Masa dakwah Rasulullah Saw. menjadi dua periode, yang masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu:
1.      Periode Mekkah, berjalan kira-kira selama tiga belas tahun.
2.      Periode Madinah, berjalan selama sepuluh tahun penuh.



Periode Mekkah dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
1.      Tahapan dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang berjalan selama tiga tahun.
2.      Tahapan dakwah secara terang-terangan di tengah penduduk Mekkah, yang dimulai sejak tahun keempat dari nubuwah hingga akhir tahun kesepuluh.
3.      Tahapan dakwah di luar Mekkah dan penyebarannya, yang dimulai dari tahun kesepuluh dari nubuwah hingga hijrah ke Madinah.[5]
Perintah pertama untuk menampakkan dakwah tercantum dalam firman Allah SWT  di Al-Qur’an surah Asy-Syuara’:214.
 وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
 Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.
Terdapat jalur cerita sebelumya yang menyinggung kisah Nabi Musa, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Luth serta Ashhabul Aikah (selain yang berkaitan dengan tentang Fir’aun dan kaumnya). Hal ini dimaksudkan agar mereka yang mendustakan perintah Allah SWT. Maka  akan menngalami nasib yang sama. Demikian pula, agar kaum Mukminin tahu bahwa kesudahan yang baik dari itu semua akan berpihak kepada mereka bukan kepada para pendusta tersebut.[6]
Kehidupan Nabi Muhammad di Mekkah
Inti kehidupan beliau di Mekkah adalah melaksanakan tugas-tugas kerasulannya. Secara keseluruhan, kontak yang dilakukan oleh beliau terhadap masyarakat dibagi dalam tiga tahapan. Tahapan pertama dilakukan secara rahasia yaitu pada kerabat terdekat beliau. Tahapan kedua seruan beliau kepada orang-orang Mekkah tapi sifatnya masih semi rahasia, yaitu masih ditujukan dalam rumpun Bani Abdul Mutthalib. Tahapan ketiga seruan beliau dengan demonstratif dan terbuka, yaitu pada masyarakat umum.
Reaksi masyarakat Mekkah terhadap ajakan Nabi Muhammad timbul karena hal-hal sebagai berikut:
1.      Rivalitasi tradisional ala Arab
2.      Persamaan hak
3.      Kekhawatiran untuk dibangkitkan
4.      Tradisi nenek moyang
5.      Masalah ekonomi
Peristiwa Hijrah
Perlawanan kaum Quraisy yang semakin meningkat dan penyiksaan yang semakin kejam kepada pengikut-pengikut beliau mendorong beliau untuk hijrah ke Habsyi. Pilihannya jatuh ke Habsyi karena pengetahuannya bahwa al- Najasy (Negus) yang berkualitas di negeri tersebut adalah orang yang adil lagi bijaksana dan orang Quraisy tidak punya pengaruh yang besar di negeri itu.[7]

5.      Substansi Dakwah Rasulullah SAW di Makkah
Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar bangsa Arab Jahiliyah adalah penyembah berhala. Setiap kabilah memiliki patung sendiri. Tidak kurang dari 360 patung bertengger di Ka’bah. Ada empat patung yang terkenal, yaitu Lata, Uzza, Munah, dan Hubal milik Kabilah Quraisy. Sebenernya mereka percaya kepada Tuhan sebagai Pencipta, Pengatur dan Penguasa alam semesta, sekalipun mereka ingkar adanya kehiduoan dan pembalasan sesudah mati. Mereka berdalih bahwa menyembah berhala tersebut tidak lain untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kepercayaan kepada Allah tersebut disinyalir merupakan sisa ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s. selain penyembah berhala, ada beberapa kabilah yang menyembah bintang, bulan, dan jin.
Dari fakta sejarah terdebut diketahui bahwa tantangan dan perlawanan yang dihadapi Rasulullah dalam berdakwah di Makkah saat itu bukan karena penduduk Makkah tidak mengakui adanya Tuhan, karena penduduk Makkah adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Terbukti jika mereka ditanya, “apakah mereka percaya kepada Tuhan?” mereka pasti menjawab, “Ya tentu kami percaya kepada Tuhan”. Tantangan yang dihadapi Rasulullah sesungguhnya adalah mereka meyakini ada banyak Tuhan (multi-God) yang menjadi sesembahan mereka, diantaranya Tuhan dalam bentuk patung atau berhala, maupun Tuhan dalam bentuk nafsudan keinginan-keinginan duniawi berupa harta, kekuasaan dan wanita yang tidak bisa mereka bending. Penyimpangan dan penodaan terhadap pemahaman tauhid inilah yang mendasari dakwah Rasulullah SAW di Makkah. Jelasnya bahwa substansi dakwah Rasulullah pada periode ini adalah melakukan pemurnian dan pelurusan tauhid agar mereka hanya semata-mata menyembah dan mengabdi kepada Allah SWT. Selain itu, substansi dakwah yang diajarkan Rasulullah SAW adalah menyebarlusakan akhlak yang mulia sekaligus memperbaiki akhlak yang buruk yang saat itu kebodohan dan kegelapan moral.
Sebagaimana kita ketahui, setelah Rasulullah SAW menerima wahyu, ia bangkit dan selama dua puluh lima tahun beliau tidak pernah diam, tidak hidup untuk diri sendiri dan keluarga saja. Beliau bangkit untuk berdakwah,memanggul beban berat di pundaknya. Beliau tidak pernah mengeluh dalam melaksanakan amanat yang besar di muka bumi, memikul beban kehidupan, akidah perjuangan, dan jihad di berbagai medan. Beliau pernah hidup di medan peperangan secara terus menerus dan berkepanjangan selama dua puluh tahun. Urusan demi urusan tidak pernah berhenti, semenjak beliau mendengar seruan kewajiban yang agung.
Demikianlah lembarang-lembaran sejarah perjuangan dakwah Rasulullah terus berkumandang membawa misi kebenaran dan hakikat ketuhanan yang agung dan universal. Ia tunjukkan kepada manusia yang zalim dan kejam bahwa Islam dan misi ketuhanannya memberikan kesejukan, kenyamanan, keselamatan, kesejahteraan umtuk kehidupan dunia dan akhirat.[8]






C.    Kesimpulan
Periode Mekkah dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
1.      Tahapan dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang berjalan selama tiga tahun.
2.      Tahapan dakwah secara terang-terangan di tengah penduduk Mekkah, yang dimulai sejak tahun keempat dari nubuwah hingga akhir tahun kesepuluh.
3.     Tahapan dakwah di luar Mekkah dan penyebarannya, yang dimulai dari tahun kesepuluh dari nubuwah hingga hijrah ke Madinah.
Jadi selama di Makkah Rasulullah menyebaran dakwah selama 13 tahun saja.
















DAFTAR PUSTAKA
Ismawati, Ismawati. 2015. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: CV Karya Abadi Jaya.
Pimay, Awaludin. 2013. Manajemen Dakwah. Yigyakarta; CV. Pustaka Pustaka Ilmu Group.
Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyurrahman. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Ummul Qura.
Susmihara dan Rahmat. 2013. Sejarah Islam Klasik. Yogyakarta: Ombak.


[1] Dra. Susmihara, M.Pd dan Drs. Rahmat, M. Pd. I.,Sejarah Islam Klasik,(Yogyakarta: Ombak, 2013),hlm.28
[2] Dra. Susmihara, M.Pd dan Drs. Rahmat, M. Pd. I.,Sejarah Islam Klasik,(Yogyakarta: Ombak, 2013),hlm.29
[3] Dra. Susmihara, M.Pd dan Drs. Rahmat, M. Pd. I.,Sejarah Islam Klasik,(Yogyakarta: Ombak, 2013),hlm.29
[4] Prof. Dr. Hj. Ismawati, M. Ag, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 11-17
[5] Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah,(Jakarta: Ummul Qura,2011),hlm.146
[6] Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah,(Jakarta: Ummul Qura,2011),hlm.153-154
[7] Dra. Susmihara, M.Pd dan Drs. Rahmat, M. Pd. I.,Sejarah Islam Klasik,(Yogyakarta: Ombak, 2013),hlm.28-57
[8] Dr. H. A waludin Pimay, Lc, M. Ag, Manajemen Dakwah, (Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu group, 2013), hlm 28-30

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Psikologi Dakwah (Karakteristik Manusia)

Makalah Kerajaan Demak dan Kerajaan Pajang

Makalah Fiqih Shakat Sunnah