Dakwah Nabi Muhammad Periode Makah
DAKWAH NABI MUHAMMAD PERIODE MAKAH
Makalah
ini Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata
kuliah: Sejarah Dakwah
Dosen
Pengampu: Agus Riyadi, M.S.I

Disusun oleh :
1.
Yufi Ferdiansyah
(1701036096)
2.
Amalia Zakiyah
(1701036097)
3.
Ridwan Wijaya (1701036098)
4.
Cantika Diah Pralita
(1701036099)
MANAJEMEN
DAKWAH
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2018
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sejarah
pertumbuhan dan perkembangan peradaban Islam dimulai pada masa dakwahnya
Rasulullah Saw. dimana beliau menegakkan panji-panji Islam dengan akhlak beliau
yang memiliki kepribadian luhur, pantang menyerah serta gigih dalam menghadapi
segala masalah, cobaan dan rintangan demi tegaknya syariat Islam. Dalam sejarah
perkembangan Islam ini, jejak Rasulullah mengalami dua periode, yaitu periode
di Makah dan periode di Madinah selama kurun waktu 23 tahun. Selama itu
Rasulullah mampu membersihkan seluruh unsur kemusyrikan dan menegakkan ajaran
Islam secara murni dan utuh. Hal ini telah membuktikan gigihnya Nabi Muhammad
dalam berdakwah. Keyakinan beliaulah yang teguh bahwasannya Allah SWT pasti
selalu membimbing dan membantunya, karena itulah beliau Rasulullah menjadi
sosok revolusioner yang sulit dicari bandingannya. Agama Islam yang dibawa oleh makhluk pilihan terbaik ini
sebagai agama penyempurna bagi agama-agama sebalumnya, sekaligus penutup bagi
nabi terakhir. Sayangya pada masa sekarang ini pengetahuan tentang hal ini
sudah mulai luntur, terutama pada para kaum muda. Pengulasan materi mengenai
sejarah Nabi Muhammad ini diharapkan bisa mengingat kembali bagaimana
perjuangan-perjuangan beliau dan para sahabat dan mencontoh dalam sikap beliau
selama masih hidup serta sebagai pembelajaran untuk pedoman kita dalam sehari-hari.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana asal keturunan Nabi
Muhammad SAW?
2. Bagaimana kehidupan Nabi Muhammad SAW
sebelum diangkat menjadi Rasul?
3. Bagaimana pengangkatan Nabi Muhammad SAW
sebagai Rasul?
4. Bagaimana dakwah Nabi Muhammad SAW di
Makkah?
5. Apa substansi dakwah Rasulullah SAW?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Asal Keturunan Nabi Muhammad
Nabi Muhammad SAW lahir dari keturunan bangsawan kabilah Quraisy.
Beliau memiliki silsilah yang jelas sebagaimana layaknya keluarga Arab
terhormat pada masa itu. Beliau sendiri menyatakan bahwa keturunannya adalah
keturunan pilihan di antara kabilah-kabilah Arab, yaitu keturunan Ibrahim dan
Ismail, dari keturunan Ismail terpilih Kinanah, dari keturunan Kinanah terpilih
Quraisy, dari keturunan Quraisy terpilih Hasyim dan dari keturunan Hasyimlah
beliau lahir. Tetapi beliau hanya mengakui susunan silsilahnya sampai dengan
Adnan. Tentang silsilah keturunannya dari Adnan sampai dengan Ismail tidak
dapat dipastikannya.
Ayahnya adalah Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf
bin Qusai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luayyi bin Ghalib bin Fihr bin
Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khusaimah bin Nizar bin Mu’ad bin Adnan. Ibunya
adlah Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah dan
seterusnya mengikuti garis keturunan dari pihak ayahnya, karena pada nenek
kelima bertemu garis keturunan vertikal antara ayah dan ibu.
Abdullah adalah putra kesayangan Abdul Muthalib. Beliau kawin
dengan Aminah binti Wahab dalam usia sekitar 24 tahun. Keduanya adalah pasangan
yang sekufu dan serasi, pemuda tampan dan gadis jelita. Abdul Muthalib dan
Wahab menurunkan keluarga yang terpandang di kalangan kabilah-kabilah Arab.
Abdullah yang berarti ‘hamba Allah’ adalah nama pilihan yang tidak pernah
digunakan sebelumnya. Ia pernah akan dikorbankan sebagai penerus nazar. Abdul
Muthalib bernazar apabila ia mempunyai anak lelaki sepuluh orang maka salah
seorang akan dikorbankan kepada berhala-berhala di hadapan Ka’bah. Nazar ini
ditebus dengan menyembelih 100 ekor unta sebagai gantinya. Ini dilakukan atas
pertimbangan, langkah Abdul Muthalib itu kelak akan diikuti pula oleh warga
Quraisy di kemudian hari, karena beliau adalah wali negeri yang dijadikan
ikutan dan disegani oleh segenap penduduk Makkah.
Nasab Nabi Muhammad disandarkan pula kepada bangsa Quraisy. Quraisy
menurut pengertian bahasa dari Qirsyum yaitu anjing laut yang memiliki
ketajaman gigi dan kecerdikan. Atau dari kata Qarasya artinya
pencaharian yang diperoleh dengan cara berdagang. Atau Taqarrasya yang
menyelidiki kekurangan orang lain.
Quraisy adalah gelar yang diberikan kepada anak cucu Kinanah yang
berhasil mempertahankan Ka’bah dari serbuan keturunan Himyar dari negeri Yaman.
Ada dua orang yang disebut ahli sejarah sebagai pemilik Quraisy itu. Nadir bin
Kiananh dan Fihr bin Malik bin Nadir. Etapi kebanyakan cenderung kepada yang
kedua yaitu Fihr. Fihr selain berhasil mengusir bala tentara Yaman juga
terkenal sebagai pedagang dengan memanfaatkan kedatangan orang-orang yang
menziarahi Ka’bah. Di samping itu, ia suka pula meladeni kebutuhan
penziarah-penziarah itu, menjamu dan memberinya air dan makanan. Atas sifat
yang terpuji itu maka Fihr terkenal dengan gelaran “Quraisy” yang lama kelamaan
menjadi nama bangsa yang saddanah al-ka’bah atau penjaga dan pemelihara
Ka’bah.
Nama Quraisy menjadi lebih harum di tangan Qusai bin Kilab yang
menjadi penguasa tanah Hijaz dan sekitarnya setelah melakukan peperangan yang
berlarut-larut dengan bani Khuzaah. Peperangan itu di akhiri dengan perdamaian
di mana Qusai yang menjadi penengahnya. Keputusan yang penting dari perdamaian
itu adalah kunci Ka’bah dan pemeliharannya dikembalikan kepada keturunan Ismail
yakni ke tangan Qusai. Dan semenjak saat itulah Makkah dan sekitarnya di bawah
naungan bangsa Quraisy.[1]
2.
Kehidupan Muhammad sebelum Kerasulan (572-611 M)
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah pada hari Senin, 20 April 571
M/12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah, tahun ketika pasukan gajah Abrahah menyerang
Makkah untuk menghancurkan Ka’bah, namun pasukan Abrahah mengalami kehancuran.
Merupakan suatu kebiasaan di antara orang-orang kaya dan kaum bangsawan Arab
bahwa ibu-ibu itu tidak mau menyusui dan mengasuh anak-anak mereka. Kehidupan
Nabi Muhammad sebelum Kerasulannyak. Nabi disusui oleh Tsuwaibah dari keluarga
Badwi dan yang kedua oleh Halimah binti Abu Duaib dari Bani Saad. Sebagaimana
Muhammad diasuhkan kepada perempuan desa yang bernama Halimah Sa’diyah. Masa
kecil beliau berada di pedesaan dengan turut mengembalakan kambing bersama
dengan Halimah yang mengasuhnya. Setelah kurang lebih empat tahun dalam
asuhannya, Muhammad dikembalikan kepada ibunya. Selama dua tahun bersama
ibunya, pada usia 6 tahun Muhammad sudah kehilangan kedua orang tua. Ketiadaan
kedua orang tuanya, seakan dirinya telah dipersiapkan untuk mandiri dalam
mengemban tugas menyampaikan risalah agama yang terakhir.
Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung
jawab merawat Muhammad. Namun dua tahu kemudian, kakeknya meninggal dunia pada
usia 80 tahun. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya yang bernama
Abu Thalib. Abu Thalib mencintai kemenakannya itu sama seperti anaknya sendiri.
Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, berbakti dan baik hati, itulah yang
menarik hati pamannya. Maka kehidupannya bersama pamannya, telah dilaluinya
dengan penuh berbagai pengalaman. [2]
Pada usia 12 tahun, Muhammad belajar mengembala kambing, salah satu
tradisi sangat bermanfaat untuk menumbuhkan karakter psikologi
bagi seorang pemimpin. Muhammad juga ikut belajar dagang bersama kafilah
pamannya ke Syria, sehingga secara tidak langsung beliau belajar dan
menyaksikan berbagai tradisi dan corak kehidupan masyarakat di luar kabilah
Arab. Perjalanan ini mempunyai pengaruh besar dalam tingkah laku dan cara
hidupnya. Sebagai pedagang, Muhammad menjadi terkenal atau masyhur karena baik
dan jujur, yang merupakan sikap dan prinsip hidupnya sejak masa kanak-kanak.
Ketikau beliau berusia 25 tahun, beliau membawa dagangan milik
seorang pedagang kaya raya bernama Khadijah binti Khuwailid yang berusia 40
tahun ke Syria. Kepandainnya berdagang dan akhlak yang bagus, menarik
hati Khadijah binti Khuwailid. Setelahnya beliau menikah dengannya. Muhammad
dikarunia 6 orang anak, dua laki-laki yaitu Qasim dan Abdullah, empat perempuan
yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum, dan Fatimah.
Peristiwa penting yang memperlihatkan salah satu kebijaksanaan
Muhammad adalah ketika berumur 35 tahun, dimana terjadi banjir dahsyat dari
gunung yang mengelilingi Ka’bah. Setelah kurang lebih 200 tahun Ka’bah tidak
pernah mengalami kerusakan berarti, dengan terjadinya banjir besar itu tak satu
pun rumah di Makkah selamat dari kerusakan. Dinding Ka’bah mengalami kerusakan,
sehingga kabilah Quraisy memutuskan untuk membangun Ka’bah walau dengan rasa
was-was. Ketika dinding Ka’bah telah dibangun setinggi batas orang berdiri, Hajar
al-Aswad akan diletakkan pada tempatnya semula. Perselisihan muncul di
kalangan masing-masing pemimpin suku, yang merasa bahwa tidak ada suku lain
yang pantas melakukan perbuatan mulia ini kecuali sukunya sendiri. Karena
pertikaian ini, maka pekerjaan konstruksi tertunda lima hari. Melihat kondisi
yang tidak baik ini, seorang tua yang disegani di antara kabilah Quraisy, yaiu
Abu Umayyah bin Mughirah al-Makhzumi, mengumpulkan para pemimpi Quraisy dan
menyarankan agar menerima keputusan siapa pun yang pertama kali masuk melalui bab
al-salam, yaitu pintu di depan Shafa. Mereka semua menyetujui gagasa ini,
dan tatkala tiba-tiba Muhammad muncul dari pintu, mereka menyepakati dengan
senang hati. Untuk menyelesaikan pertikaian itu, Nabi meminta mereka menyediakan
selembar kain. Beliau meletakkan Hajar al-Aswad di atas kain itu dengan
tangannya sendiri, kemudian meminta tiap orang dari suku Makkah memegang setiap
ujung kain itu. Ketika Hajar al-Aswad sudah diangkat ke dekat pihar,
Nabi meletakkannya pada tempatnya dengan tangannya sendiri. Dengan begitu,
pertikaian di antara kabilah Quraisy bisa terhindar karena kebijaksanaan
Muhammad yang selanjutnya beliau digelari Al-Amin, gelar Muhammad yang
artinya orang yang dapat dipercaya.[3]
3.
Pengangkatan Muhammad Menjadi Rasul
Ketika Rasulullah SAW berusia 40 tahun,
Muhammad sering berkhalwat di gua Hira, pada Jabal Nur, yang terletak sekitar 6
km di sebelah timur laut kota Makah. Beliau menjauhkan diri dari keramaian
masyarakat dan mencari ketenangan. Merenung atau bertafakur tentang keaadaan
masyarakatnya yang semakin merosot akhlak dan keyakinannya. Berkhalwat adalah
suatu kebiasaan yang berdasar pada syariat peninggalan Nabi Ibrahim.
Pada tanggal 17 Ramadhan 13 tahun sebelum
Hijriyah, bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, beliau didatangi pleh seorang yang belum dikenalinya. Rasa
terkejit beliau hilang, tetapi pada saat yang bersamaan orang asing itu
mengatakan, bahwa beliau adalah Utusan Allah dan diperintahkan untuk membaca.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang
mengerjakan dengan pena. Yang mengajar manusia apa yang mereka tidak ketahui”.
Kalimat-kalimat yang didengar it uterus
menghujam dalam dadanya, dan terus diingatnya, yang dikenal dengan surah
Al-Alaq: 1-5. Beliau bersegera pulang ke rumah, peristiwa menakutkan dan
dahsyat yang dialami tersebut diceritakan pada istrinya Khadijah binti
Khuwailid. Istrinya terperanjat dan memintanya tidur dan segera menyelimutinya.
Setelah itu istrinya meninggalkan Nabi yang tertidur dan menyatakan pada
pamannya, Waraqah bin Naufal, seorang ahli Tauratdan Injil. Ketika Nabi
Muhammad SAW telah terbangun dari tidurnya Khadijah binti Khuwailid
memepertemukannya dengan pendeta Waraqah bin Naufal. Setelah mendengar cerita
Muhammad, Waraqah bin Naufal menegaskan bahwa yang datang adalah malaikat
Jibril dan pendeta Waraqah bin Naufal menenangkan hati Nabi dengan menegaskan
bahwa beliau telah diangkat sebagai Rasul.
Berikutnya Nabi Muhammad SAW telah menjadi
Rasul, menunggu dan merindukan kedatangan kembali malaikat Jibril. Sampai pada
suatu saat, beliau sedang berjalan-jalan tiba-tiba terdengar suara yang pernah
di dengarnya, “Wahai Muhammad, engkau
adalah Rasulullah yang benar”. Nabi Muhammad menoleh kea rah suara yang
didengar itu, dan tampaklah Jibril yang pernah mendatanginya di Gua Hira
dahulu. Kembali lagi sekujur tubuh Nabi gemetar, karena itu beliau bergegas
pulang. Setiba di rumah, beliau meminta Khadijah untuk menyelimuti, dan saat
itu juga turun wahyu kedua seperti tercantum dalam surah Al-Mudatsir: 1-79. “Wahai orang yang berselimut, bangun dan
sampaikanlah peringatan, dan agungkanlah Tuhanmu dan pakaianmu hendak kau bersihkan,
dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan kau memberi, karena ingin menerima lebih
banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkanlah hatimu”.
Mulai saat itu Muhammad diangkat sebagai
Rasul yang berkewajiban untuk mengajak umat manusia kepada kebenaran dan dan
menyelesaikan tugas yang berat ini dengan menyampaikan risalah yang diberikan
kepadanya. Tugas Rasul ini berbeda dengan Nabi lain yang tidak diwajibkan
menyerukan risalah Allah yang telah diwahyukan kepadanya.[4]
4.
Dakwah Nabi Muhammad di Makkah
Masa dakwah Rasulullah
Saw. menjadi dua periode, yang masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri,
yaitu:
1.
Periode Mekkah, berjalan kira-kira selama tiga belas tahun.
2.
Periode Madinah, berjalan selama sepuluh tahun penuh.
Periode
Mekkah dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
1.
Tahapan dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang berjalan selama tiga
tahun.
2.
Tahapan dakwah secara terang-terangan di tengah penduduk Mekkah,
yang dimulai sejak tahun keempat dari nubuwah hingga akhir tahun kesepuluh.
3.
Tahapan dakwah di luar Mekkah dan penyebarannya, yang dimulai dari
tahun kesepuluh dari nubuwah hingga hijrah ke Madinah.[5]
Perintah
pertama untuk menampakkan dakwah tercantum dalam firman Allah SWT di Al-Qur’an surah Asy-Syuara’:214.
وَأَنْذِرْ
عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Dan berilah peringatan kepada
kerabat-kerabatmu yang terdekat.
Terdapat jalur
cerita sebelumya yang menyinggung kisah Nabi Musa, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi
Luth serta Ashhabul Aikah (selain yang berkaitan dengan tentang Fir’aun dan
kaumnya). Hal ini dimaksudkan agar mereka yang mendustakan perintah Allah SWT.
Maka akan menngalami nasib yang sama.
Demikian pula, agar kaum Mukminin tahu bahwa kesudahan yang baik dari itu semua
akan berpihak kepada mereka bukan kepada para pendusta tersebut.[6]
Kehidupan Nabi Muhammad di Mekkah
Inti kehidupan
beliau di Mekkah adalah melaksanakan tugas-tugas kerasulannya. Secara
keseluruhan, kontak yang dilakukan oleh beliau terhadap masyarakat dibagi dalam
tiga tahapan. Tahapan pertama dilakukan secara rahasia yaitu pada kerabat
terdekat beliau. Tahapan kedua seruan beliau kepada orang-orang Mekkah tapi
sifatnya masih semi rahasia, yaitu masih ditujukan dalam rumpun Bani Abdul
Mutthalib. Tahapan ketiga seruan beliau dengan demonstratif dan terbuka, yaitu
pada masyarakat umum.
Reaksi masyarakat Mekkah terhadap ajakan Nabi Muhammad timbul
karena hal-hal sebagai berikut:
1.
Rivalitasi tradisional ala Arab
2.
Persamaan hak
3.
Kekhawatiran untuk dibangkitkan
4.
Tradisi nenek moyang
5.
Masalah ekonomi
Peristiwa Hijrah
Perlawanan kaum Quraisy yang semakin meningkat dan penyiksaan yang
semakin kejam kepada pengikut-pengikut beliau mendorong beliau untuk hijrah ke
Habsyi. Pilihannya jatuh ke Habsyi karena pengetahuannya bahwa al- Najasy
(Negus) yang berkualitas di negeri tersebut adalah orang yang adil lagi bijaksana
dan orang Quraisy tidak punya pengaruh yang besar di negeri itu.[7]
5.
Substansi Dakwah Rasulullah SAW di Makkah
Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar
bangsa Arab Jahiliyah adalah penyembah berhala. Setiap kabilah memiliki patung
sendiri. Tidak kurang dari 360 patung bertengger di Ka’bah. Ada empat patung
yang terkenal, yaitu Lata, Uzza, Munah, dan
Hubal milik Kabilah Quraisy.
Sebenernya mereka percaya kepada Tuhan sebagai Pencipta, Pengatur dan Penguasa
alam semesta, sekalipun mereka ingkar adanya kehiduoan dan pembalasan sesudah
mati. Mereka berdalih bahwa menyembah berhala tersebut tidak lain untuk
mendekatkan diri kepada Allah. Kepercayaan kepada Allah tersebut disinyalir
merupakan sisa ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim a.s. selain penyembah berhala, ada beberapa kabilah yang
menyembah bintang, bulan, dan jin.
Dari fakta sejarah terdebut diketahui bahwa
tantangan dan perlawanan yang dihadapi Rasulullah dalam berdakwah di Makkah
saat itu bukan karena penduduk Makkah tidak mengakui adanya Tuhan, karena
penduduk Makkah adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Terbukti jika
mereka ditanya, “apakah mereka percaya
kepada Tuhan?” mereka pasti menjawab,
“Ya tentu kami percaya kepada Tuhan”. Tantangan yang dihadapi Rasulullah
sesungguhnya adalah mereka meyakini ada banyak Tuhan (multi-God) yang menjadi sesembahan mereka, diantaranya Tuhan dalam
bentuk patung atau berhala, maupun Tuhan dalam bentuk nafsudan
keinginan-keinginan duniawi berupa harta, kekuasaan dan wanita yang tidak bisa
mereka bending. Penyimpangan dan penodaan terhadap pemahaman
tauhid inilah yang mendasari dakwah Rasulullah SAW di Makkah. Jelasnya bahwa
substansi dakwah Rasulullah pada periode ini adalah melakukan pemurnian dan
pelurusan tauhid agar mereka hanya semata-mata menyembah dan mengabdi kepada
Allah SWT. Selain itu, substansi dakwah yang diajarkan Rasulullah SAW adalah
menyebarlusakan akhlak yang mulia sekaligus memperbaiki akhlak yang buruk yang
saat itu kebodohan dan kegelapan moral.
Sebagaimana kita ketahui, setelah
Rasulullah SAW menerima wahyu, ia bangkit dan selama dua puluh lima tahun
beliau tidak pernah diam, tidak hidup untuk diri sendiri dan keluarga saja.
Beliau bangkit untuk berdakwah,memanggul beban berat di pundaknya. Beliau tidak
pernah mengeluh dalam melaksanakan amanat yang besar di muka bumi, memikul
beban kehidupan, akidah perjuangan, dan jihad di berbagai medan. Beliau pernah
hidup di medan peperangan secara terus menerus dan berkepanjangan selama dua
puluh tahun. Urusan demi urusan tidak pernah berhenti, semenjak beliau
mendengar seruan kewajiban yang agung.
Demikianlah lembarang-lembaran sejarah perjuangan
dakwah Rasulullah terus berkumandang membawa misi kebenaran dan hakikat
ketuhanan yang agung dan universal. Ia tunjukkan kepada manusia yang zalim dan
kejam bahwa Islam dan misi ketuhanannya memberikan kesejukan, kenyamanan,
keselamatan, kesejahteraan umtuk kehidupan dunia dan akhirat.[8]
C.
Kesimpulan
Periode Mekkah dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
1. Tahapan dakwah
secara sembunyi-sembunyi, yang berjalan selama tiga tahun.
2. Tahapan dakwah
secara terang-terangan di tengah penduduk Mekkah, yang dimulai sejak tahun
keempat dari nubuwah hingga akhir tahun kesepuluh.
3. Tahapan dakwah
di luar Mekkah dan penyebarannya, yang dimulai dari tahun kesepuluh dari
nubuwah hingga hijrah ke Madinah.
Jadi selama di Makkah Rasulullah menyebaran dakwah
selama 13 tahun saja.
DAFTAR
PUSTAKA
Ismawati, Ismawati. 2015. Sejarah
Peradaban Islam. Semarang: CV
Karya Abadi Jaya.
Pimay, Awaludin. 2013. Manajemen Dakwah. Yigyakarta; CV. Pustaka Pustaka Ilmu Group.
Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyurrahman. Sirah Nabawiyah. Jakarta:
Ummul Qura.
Susmihara
dan Rahmat. 2013. Sejarah Islam Klasik. Yogyakarta: Ombak.
[1] Dra.
Susmihara, M.Pd dan Drs. Rahmat, M. Pd. I.,Sejarah Islam Klasik,(Yogyakarta:
Ombak, 2013),hlm.28
[2] Dra. Susmihara, M.Pd dan Drs. Rahmat, M. Pd. I.,Sejarah Islam
Klasik,(Yogyakarta: Ombak, 2013),hlm.29
[3] Dra. Susmihara, M.Pd dan Drs. Rahmat, M. Pd. I.,Sejarah Islam
Klasik,(Yogyakarta: Ombak, 2013),hlm.29
[4] Prof. Dr. Hj. Ismawati,
M. Ag, Sejarah Peradaban Islam,
(Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 11-17
[5] Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah,(Jakarta:
Ummul Qura,2011),hlm.146
[6] Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah,(Jakarta:
Ummul Qura,2011),hlm.153-154
[7] Dra. Susmihara, M.Pd dan Drs. Rahmat, M. Pd. I.,Sejarah Islam
Klasik,(Yogyakarta: Ombak, 2013),hlm.28-57
[8] Dr. H. A
waludin Pimay, Lc, M. Ag, Manajemen
Dakwah, (Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu group, 2013), hlm 28-30
Komentar
Posting Komentar