Makalah Metodologi Dakwah (Dakwah Bil-Qolam)


DAKWAH BIL-QOLAM

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata kuliah: Metodologi Dakwah
Dosen Pengampu: H. M. Alfandi, M.Ag

logo uin smg
Disusun oleh :
1.     CantikaDiahPralita               (1701036099)
2.     Mustaqim                               (1701036110)
3.     Rina Widiyanti                      (1701036114)
4.     Camellia Mahdalena            (1701036127)


JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam adalah agama dakwah. Dimana islam harus disebarluaskan kesuluruh penjuru dunia. Sebaik-baiknya umat ialah mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran. Oleh karena itu, aktivitas dakwah harus menjadi bagian kehidupan sehari-hari sebagai seorang muslim.
Dakwah melalui podium yang muncul dalam bentuk khotbah ataupun ceramah masih dominan hingga kini. Padahal sebenarnya masih banyak bentuk dakwah yang lain yang bisa digunakan, seperti halnya melakukan dakwah melalui tulisan atau yang sering dikenal dengan dakwah bil qalam.
Dakwah bil qalam masih terasa asing ditelinga kita, aktivis dakwah bil qalam pun masih terasa langka sehingga dakwah bil qalam ini kurang mendapat perhatian dari kalangan umat islam. Padahal apa yang kita tulis kelak akan menjadikan kita abadi. Bahwasanya setiap manusia pasti akan mati, namun dengan tulisan atau karyanya tersebut akan menjadikannya abadi dan selalu dikenang. Kita akan dikenang sepanjang masa. Dari uraian diatas, jelas sudah saatnya digalakkan wawasan dan pemahaman bagi umat islam tentang pentingnya dakwah melalui tulisan (Dakwah Bil Qalam) dan menumbuhkan minat dan bakat menulis bagi umat islam.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dakwah bil qalam?
2.      Bagaimana bentuk-bentuk dakwah bil qalam?
3.      Bagaimana kelebihan dan kekurangan dakwah bil qalam?
4.      Bagaimana pengembangan metodologi dakwah bil qalam dalam konteks kekinian?
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Dakwah Bil- Qalam
Dakwah bil qalam  jika ditulis secara gramatikal bahasa Arab kalimat ditulis ad da’wah bi al qalam. Terdiri dari dua kata da’wah dan qalam. Menurut Muriah dalam buku Metodologi Dakwa Kontemporer,da’wah (jika ditulis Arab) atau dakwah (jika ditulis Indonesia) secara etimologis merupakan bentuk mashdardari akar kata da’ā yad’ū da’wah yang artinya memanggil, mengundang mengajak, menyeru, mendorong dan memohon.[1]
Definisi dakwah secara terminologi muncul dari pendapat beberapa tokoh, sebagai berikut: dakwah menurut Abdul Munir Mulkhan adalah aktualisasi atau realisasi salah satu fungsi kodrati seorang muslim, yaitu fungsi kerisalahan berupa proses pengondisian agar sesorang atau masyarakat mengetahui, memahami, mengimani, dan mengamalkan Islam sebagai ajaran dan pandangan hidup. Maksud dari pengondisian yang berkaitan dengan perubahan tersebut berarti, upaya menumbuhkan kesadaran dan kekuatan pada diri objek dakwah terhadap nilai-nilai Islam (Mulkhan, 1996: 205). Menurut Syekh Ali Mahfudz, dakwah adalah mengajak kepada sesuatu.Istilah dakwah berarti mengajak manusia kepada kebaikan dan petunjuk, serta memerintahkan mereka berbuat makruf dan mencegah kemungkaran agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.[2]
Quraish Shihab memberi pengertian dakwah sebagai seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi dan masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekedar meningkatkan pemahaman dalam laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga menuju sasaran yang lebih luas. Apalagi pada masa sekarang ini, dakwah harus lebih berperan menuju kepada pelaksanaan ajaran Islam secara lebih menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan (Shihab, 2007: 307). Amrullah Achmad memberikan dua pola pengertian yang ada dalam  pemikiran dakwah. Pertama, bahwa dakwah diberi pengertian tablig (menyampaikan). Kedua, dakwah diberi pengertian semua usaha untuk menanamkan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan manusia. Tablig merupakan sistem usaha menyiarkan dan menyampaikan Islam agar dipeluk oleh individu atau kolektif baik melalui tulisan maupun lisan. Kriteria kedua, dapat diartikan bahwa kegiatan dakwah tidak hanya tablig tetapi meliputi semua usaha mewujudkan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan.[3]
Kegiatan dakwah menurut Muhammad Sulthon mempunyai tiga pola, yaitu: dakwah kultural dakwah politik, dan dakwah ekonomi. Dakwah  kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam-kultural. Dakwah politik merupakan gerakan dakwah yang memandang 19 kehidupan politik bangsa dan  negara dipandang sebagai alat dakwah paling strategis. Sedangkan dakwah ekonomidapat didefinisikan sebagai kegiatan dakwah yang berusaha mengimplementasikan ajaran Islam yang berhubungan dengan proses ekonomi guna meningkatkan taraf hidup umat Islam.[4]
Pengertianqalam secaraetimologis, berasal dari bahasa Arab qalam dengan bentuk jamak aqlām yang berarti kalam penulis, pena, penulis (Yunus, 2010: 355). Pengertian lainnya yang disebutkan dalam buku Jurnalisme Universal, antara lain: menurut Quraish Shihab bahwa kata qalam adalah segala macam alat tulis menulis hingga mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih (Kasman, 2004: 118). Al-Qurtubi menyatakan bahwa qalam adalah suatu penjelasan sebagaimana lidah dan qalam yang dipakai menulis oleh Allah Swt.baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Jadi penjelasan al-Qurtubi menunjukkan bahwa qalam adalah sebuah alat untuk merangkai tulisan, lalu berkembang menjadi alat cetak mencetak. Al-Shabuni mengungkapkan bahwa qalam adalah pena untuk menulis, alat untuk mencatat berbagai ilmu dari ilmu yang ada dalam kitab Allah Swt. Hingga apa yang menjadi pengalama manusia dari masa ke masa. [5]
Penjelasan al-Qurtubi sama dengan apa yang disampaikan oleh Imam asy-Syaukani dalam kitab Fatḥal-Qadīr, bahwa al-qalam menunjukkan kepada alat yang digunakan untuk menulis. Dan menurut sebagian besar ulama, makna al-qalam adalah apa yang tertulis di lauh al-mahfūdz (Asy-Syaukani, 1994: 332).
 Pengertian dakwah bil qalam lainnya yaitu mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar menurut perintah Allah Swt. lewat seni tulisan(Kasman 2004: 120).Pengertian dakwah bil qalam menurut Suf Kasman yang mengutip dari Tasfir Departemen Agama RI menyebutkan definisi dakwah bil qalam, adalah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar menurut perintah Allah Swt.melalui seni tulisan. Kasman juga mengutip pendapat Ali Yafie yang menyebutkan bahwa, dakwah bil qalam pada dasarnya menyampaikan informasi tentang Allah Swt.tentang alam atau makhluk-makhluk dan tentang hari akhir atau nilai keabadian hidup. Dakwah model ini merupakan dakwah tertulis lewat media cetak.[6]
B.     Bentuk-Bentuk Dakwah Bil-Qalam
1.      Dakwah Bil Qalam Melalui Media Cetak
Media cetak (printed publications) adalah media untuk menyampaikan informasi melalui tulisan yang tercetak. Melalui media cetak, ada beberapa tujuan yang ingin diharapkan, yaitu:
a.       Memotivasi tingkat perhatian atau perilaku seseorang.
b.      Menyampaikan informasi.
Memberikan instruksi. Dakwah Bil Qalam melalui media Cetak dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, antara lain:
a.       Buku
Buku merupakan tulisan seseorang yang telah disusun sehingga seseorang dapat membacanya secara sistematis apa yang diungkapkan oleh penulisnya. Keberadaan buku ditengah masyarakat sangat besar peranannya. Dengan membaca buku seseorang dapat memperoleh informasi, pengetahuan dan wawasan tentang sesuatu, dan dengan membaca buku pulalah seseorang dapat belajar secara otodidak.
Buku adalah jendela ilmu. Melalui buku, informasi-informasi atau pesan-pesan dakwah dapat disebarluaskan secara mudah kepada sasaran dakwah. Para ulama’ yang berdakwah mealalui buku:
1)      Imam Al-Ghazali menulis Ihya’ Ulumuddin
2)      Imam Nawawi menulis Riyadh Ash Shalihin.
b.      Surat Kabar
Surat kabar merupakan salah satu media cetak yang terbit setiap hari. Karena terbitnya setiap hari itulah, suart kabar mampu mengangkat berita-berita yang aktual. Dakwah melalui surat kabar cukup tepat dan cepat beredar ke berbagai penjuru. Karena itu dakwah melalui surat kabar sangat efektif dan efisien, yaitu dengan cara da’i menulis rubrik di surat kabar tersebut, misalnya berkaitan dengan rubrik agama.
c.       Majalah
Majalah mempunyai fungsi, menyebarkan informasi atau misi yang dibawa oleh penerbitnya kepada khalayak, majalah biasanya mempunyai ciri tertentu, ada yang khusus wanita, remaja, pendidikan, keagamaan, teknologi, kesehatan, olahraga, dan sebagainya. Sekalipun majalah telah mempunyai ciri tersendiri, tetapi majalah masih dapat difungsikan sebagai media dakwah, yaitu dengan jalan menyelipkan misi dakwah kedalam isinya, bagi majalah yang bertema umum. Jika majalah tersebut majalah keagamaan dapat dimanfaatkan sebagai majalah dakwah. Jika berdakwah melalui majalah maka seorang da’i dapat memanfaatkannya dengan cara menulis rubrik atau kolom yang berhubungan dengan misi dakwah islam.
d.       Karya Tulis
Ada hal-hal yang mempengaruhi efektifitas tulisan, antara lain, bahasa, jenis huruf, format, media, dan tentu saja penulis serta isinya. Dalam jurnal ilmiah, tulisan yang layak dimuat adalah tulisan ilmiah. Kepada para remaja gaul, misalnya kita bisa menyajikan tulisan yang lepas, kalau perlu mengikuti gaya gaul mereka: bahasa jenaka, font tulisan non-formal, topik ringan, dan tidak menghilangkan pesan dakwahnya. Metode karya tulis merupakan buah dari keterampilan tangan dalam menyampaikan pesan dakwah. Keterampilan tangan ini tidak hanya melahirkan tulisan, tetapi juga gambar atau lukisan yang mengandung misi dakwah.
e.       Karya Sastra
Pesan dakwah kadang kala perlu ditunjang dengan karya sastra yang bermutu sehingga lebih indah dan menarik. Karya sastra ini dapat berupa syair, puisi, pantun, nasyid atau lagu, dan lain sebagainya. Tidak sedikit para pendakwah menyisipkan karya sastra dalam pesan dakwahnya. Hampir setiap karya sastra memuat pesan-pesan bijak. Nilai sastra adalah nilai keindahan dan kebijakan. Keindahannya menyentuh perasaan, sementara kebijakannya menggugah hati dan pikiran. Pesan yang bijak akan mudah diterima dengan perasaan yang halus.
Karya sastra yang dijadikan pesan dakwah harus berlandaskan etika sebagai berikut: Isinya mengandung hikmah yang mengajak kepada islam atau mendorong berbuat kebaikan, dibentuk dengan kalimat indah, ketika pendakwah mengungkapkan sebuah sastra secara lisan, kedalaman perasaan harus menyertainya, agar sisi keindahannya dapat dirasakan, jika diiringi musik, maka penyampaian karya sastra tidak dengan alat musik yang berlebihan.
Disamping media cetak seperti yang telah disebutkan diatas juga terdapat media cetak lain yang dapat digunakan sebagai media dakwah, seperti brosur, buletin, naskah (script) film, dan lain sebagainya yang mempunyai fungsi sama yaitu menyebarkan informasi melalui media cetak. Jadi, dakwah dengan menggunakan media massa atau melalui lembaga penerbitan untuk menjalankan missi suci merupakan langkah yang strategis.
2.      Dakwah Bil Qalam Melalui Media Internet
Internet adalah jaringan computer luas yang menghubungkan pemakai computer satu computer dengan computer lainnya dan dapat berhubungan dengan computer dari suatu Negara ke Negara di seluruh dunia , dimana kita dapat melakukan browsing, surfing chatting dan lain – lain.
a.       Facebook
Facebook merupakan sarana yang sangat tepat untuk dipakai sebagai strategi dakwah, kita bisa mengirim berbagai pesan dakwah melalui layanan tersebut. Selain itu, kita juga bisa menggunakannya sebagai media pendidikan, media politik, dll.
a.       Yahoo Messenjer
Yahoo Messenger merupakan salah satu messenger yang dapat dipakai untuk berkomunikasi via media teks (chat) secara online. Dengan menggunakan Yahoo Messanger kita dapat berkomunikasi dengan teman, saudara atau relasi. Seperti halnya melalui chatting kita bisa menggunakan fasilitas chatting Yahoo Messanger untuk dakwah terutama dakwah fardiyah yaitu dakwah secara personal dengan seseorang, dengan dakwah fardiyah ini diharapkan dapat mengetahui karakter seseorang serta mungkin masalah-masalah yang sedang dia hadapi sehingga kita bisa membantu menyelesaikannya serta bisa mengajak dia ke jalan kebaikan Pada fasilitas message ini kita bisa mengirimkan pesan kebaikan serta ajakan-ajakan untuk berbuat ma’ruf kepada rekan kita entah dia online maupun offline.
b.     Blog
Blog adalah kependekan dari Weblog. Seringkali blog digunakan untuk menyebut website pribadi yang selalu diupdate (diperbaharui) secara terus-menerus dan berisi link-link ke website lain yang dianggap menarik, dan disertai komentar-komentar pemilik blog dan pengunjungnya. Sebagian aktivis dan pegiat dakwah pun mulai memanfaatkan teknologi ini untuk kemajuan dakwah. Mereka berdakwah dengan menulis tulisan-tulisan islami dalam blog tersebut. Adapun beberapa keuntungan kita memiliki berdakwah lewat blog adalah:
1)      Memperluas dakwah
2)      Tempat Apresiasi Hasil Tulisan
3)      Tempat Publikasi Kajian[7]

C.     Kelebihan dan Kekurangan Dakwah Bl-Qalam
Kelebihan dakwah melalui tulisan yang disebarkan baik melalui media cetak ataupun konvergensi, yaitu: tidak terikat waktu sehingga dapat memperdalam pemahaman mad’ū.Tulisan bisa dibaca berulang-ulang secara seksama dan dipahami mendetail. Berbeda dengan dakwah melalui ceramah, yang lebih mudah dilupakan oleh mad’ū walaupun dapat menggelorakan jiwa secara langsung (Ma’arif, 2010: 163). Kekuatan lain yaitu dari segi kerasipannya,karena buku bisa diwariskan oleh generasi penerus sehingga kelestarian pemikiran penulis buku terjaga. Hal ini dapat dilihat dari karya-karya pendahulu Islam, misalnya Imam Nawawi al-Bantani yang mengarang kitab Arba’īnan-Nawawy, Imam al-Ghazali dengan salah satu kitabnya Iḥyā’Ulūmad-dīn, Imam Suyuti dengan kitab al-Asybah wa al-Nadhāir.Keunggulan lainnya adalah objek dan cakupan dakwah bil qalam lebih banyak dan luas jika dibandingkan dakwah bil lisan. Karena pesan dakwah dan informasi yang dituliskan dapat dibaca oleh puluhan hingga ribuan bahkan jutaan orang (Romli, 2005: 130). Hingga kemudian dapat membukajaringan sosial yang lebih luas. Apabila media telah diapresiasi dan disambut baik oleh masyarakat luas, akan terjalin hubungan yang kental antar jemaah. Pemahaman mereka dibentuk dengan cara yang sama dan dibakukan dalam format pengetahuan (kognisi) yang melandasi gerakan suatu komunitas atau jemaah (Ma’arif, 2010: 163). Media yang digunakan dakwah bil qalam sebagaimana obyek dalam penelitian ini adalah buku. Buku sebagai media tertua menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan manusia. Nilai budaya buku sebagaimana yang disebutkan Baran (2011: 86-92). mempunyai kekuatan untuk alasan sebagaimana berikut:
1.      Buku adalah agen perubahan sosial dan budaya. Melalui buku, penulis dapat menyampaikan ide yang bisa jadi kontroversial dan revolusioner bagi pembacanya.
2.      Buku sebagai sumber referensi paling utama. Sebagai referensi utama  peran buku sangat penting, terutama dalam dunia akademis.
3.      Buku adalah jendela pada masa lalu. Pembaca bisa mengetahui sejarah 1500 tahun silam dari sebuah buku. Buku merepresentasikan sejarah lebih akurat daripada media elektronik modern.
4.      Buku merupakan sumber penting dari pengembangan pribadi. Bentuk yang paling jelas adalah buku self help,perbaikan pribadi.
5.      Buku menjadi sumber hiburan, refleksi pribadi, dan menghidupkan aspek imajinatif. Bagi beberapa orang, dengan membaca novel orang bisa menghibur diri dari masalahnya,dan kekutan imajinatifnya mampu menjadikan pembacanya menangis atau tertawa sendiri saat membaca.
6.      Pembelian dan membaca buku adalah aktivitas pribadi yang lebih individual, dari pada mengonsumsi iklan (televisi, radio, surat kabar, dan majalah). Dengan demikian, buku cenderung mendorong refleksi pribadi ke tingkat lebih tinggi daripada media lainnya.
7.      Buku adalah cermin budaya. Buku menjadi refleksi budaya dari sebuah tempat yang memproduksi dan mengonsumsi mereka.Segala kelebihandakwah bil qalam termasuk didalamnya buku dan media cetak lain, bukan berarti tanpa kelemahan, antara lain: pertama, tulisan yang disebarkan melalui buku menjadi media massa yang mempunyai sifat paling tidak massal dari media massa lain dalam menjangkau khalayak. Hal ini dikarenakan hubungan buku dan pembaca bersifat lebih pribadi, orang menentukan untuk membeli dan membaca sebuah buku dikarenakan kebutuhannya. Berbeda dengan televisi, yang bisa sekali memproduksi program bisa didistribusikan kepada jutaan khalayak secara serempak (Baran, 2011: 85-86). Kedua, tulisan tidak dapat secaramenyeluruh menjangkaulapisanmasyarakat, terutama masyarakat dengan budaya membaca yang lemah. Masyarakat yang lebih menyukai kegiatan menghabiskan waktu dengan menonton televisi biasanya tidak menyukai kegiatan membaca.Ketiga, tidak semua pemikiran yang dituangkan oleh penulis mendapat respon yang sama oleh para pembaca, sebaliknya tulisan akan menimbulkan kontroversi.

D.    Pengembangan Metodologi Dakwah Bil Qalam dalam Konteks Kekinian
Penerapan aktivitas dakwah bil qalamadalahkonteks penuangan gagasan hingga proses kreatif seorang penulis,serta dalam hal penerbitan karya, terutama buku. Hasil dakwah bil qalamadalah suatu tulisan atau  karya tulis. Tulisan terdiri dari bentuk dan isi. Bentuk adalah paparan, uraian, penyampaian gagasan melalui susunan kata dan kalimat. Isi adalah gagasan, pendapat, keinginan, usul, saran yang di kemukakan melalui tulisan. Dilihat dari bentuk dan isinya, tulisan terdiri atas dua jenis, yakni: pertama, fiksi, yaitu tulisan berdasarkan imajinasi, khayalan, namun tetap berpijak kepada gagasan nyata. Tulisan fiksi meliputi prosa (cerita pendek, novel, roman), dan puisi(sajak, lirik, nyanyian). Kedua, nonfiksi, yaitu tulisan berdasarkan data dan fakta. Tulisan nonfiksi jenisnya yaitu: reportase, esai, artikel, opini, kolomdan berbagai karya ilmiah lainnya(Kuncoro, 2009: 25).
Penuangan gagasan dalam tulisan bisa semua hal, namun banyak orang yang merasa kesulitan dalam menemukan ide tulisan. Menurut Kuncoro(2009: 5),penyebab ketidakproduktifan menulis dikarenakan belum memahami hakikat surat al-Kahfi ayat 109. Artinya: “Katakanlah (Muhammad): Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku,sungguh habislah lautan itu sebelum selesai(ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”(Departemen Agama RI, 2005: 305).31 Ayat ini menunjukkan betapa luasnya ilmu AllahSwt. Bahkan bila seluruh lautan jadi tinta untuk menulis, tak akan mampu menulis semua kalimat-kalimat AllahSwt. Jadi hal pertama yang harus dipahami adalah jeli memandang segala hal untuk menjadi ide tulisantermasuk untuk ide dakwah bil qalam.Kedua, membentuk sistem menulis dalam otak dengan writing oriented. Melalui beberapa hal sebagaimana berikut:
1.       Menjadikan kegiatan menulis sebagai pilihan hidup, bukan hobi semata yang dikerjakan hanya ketika ada keinginan hati, atau ketika ada sisa waktu.
2.      Menumbuhkan kebiasaan menulis, antara lain: (a) Membaca. Semakin seseorang sering membaca maka pengetahuannya bertambah, sehinggabanyak ide untuk menulis, dan tumbuh rasa percaya diri.(b) Berdiskusi dengan teman atau orang lain untuk mendapatkan masukan atau kritik, sehingga semakin terasah kemampuan berpikir dan memahami pendapat orang lain. (c) Mengikuti seminar, workshop, atau talkshow untuk menambah wawasan menulis. (d) Mengamati peristiwa kejadian dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan dan menceritakannya dalam tulisan. Ketiga,keinginan kuat untuk menulis membutuhkan motivasi yang tinggi. Motivasi dari dalam diri tersebut harus dibangkitkan. Membangkitkan motivasi diri akan mudah jika dikaitkan dengan kehidupan spiritual sesorang. Motivasi ini dibentuk bahwa menulis adalah menyebarkan ilmu Allah Swt.,dan ilmu yang bermanfaat adalah wujud rasa syukur atas ilmu yang dianugerahkan Allah Swt., sedangkan menyembunyikan ilmu adalah dosa (Kuncoro, 2009: 5-6). Pemikiran atau gagasan hingga sampai kepada penerbit dengan beragamcara. Publikasi idemelalui media seperti surat kabar atau majalah caranya dengan dikirimkan secara langsung kepada redaktur,dan mengalami proses seleksi layak muat naskah. Begitu pula dalam penerbitan buku, ide-ide yang akan menjadi naskah buku melewatiseleksi dari editor akuisisi. Ide tersebut bisa disampaikan secara langsung kepada editor atau melalui perantara. Editor akuisisi memiliki kewenangan untuk mengatakan iya atau tidak terhadap naskah atau ide naskah, lalu diseleksi bersama dengan bagian pemasaran, keuangan, produksi, dan administrasi yang menilai ide penulis dari prespektif mereka. Kemudian buku harus ditulis dan diselesaikan, biasanya penerbit menugaskan editor untuk membantu penulis menghasilkan naskah yang berkualitas (Baran, 2011: 98-99).
Seiring dengan perkembangan teknologi,penerbitan buku tidak hanya bergantung dengan penerbitan konvensional tetapi juga melalui media konvergensi. Publikasi buku melalui konvergensi media merubah aspek industri buku konvensional (cetak), dari pendistribusian hingga penjualan. Teknologi dalam bentuk e-publishing (penerbitan digital)menawarkan penerbitan buku secara online, dan menawarkan cara baru mempublikasikan ide penulis.E-publishing dapat mengambil bentuk e-book (buku digital) dan print on demand (POD). E-book adalah sebuah buku dalam bentuk elektronik yang diunduh (secara gratis ataupun berbayar) dari internet ke komputer atau perangkat genggaman. Sedangkan POD adalah bentuk lain dari e-publishing.Buku disimpan dalam file digital dan sekali memesan buku dapat langsung dicetak dan dikirim. Keuntungan e-publishing bagi penerbit dan pembaca adalah secara keuangan. POD buku tidak memerlukan tempatpenyimpanan yang luas, tidak ada sisa penjualan buku cetak yang memotong keuntungan, biaya produksi baik personil dan peralatan relatif kecil. Cara ini tidak hanya memproduksi buku yang lebih murah untuk khalayak, tetapi sangat memperluas berbagai buku yang akan dipublikasikan.Keuntungan lain bagi penulis yang mendistribusikan karya mereka melalui e-publisher biasanya mendapatkan royaltidari 40% hingga 70%, dibandingkan dengan 5% sampai 10% yang ditawarkan penerbit konvensional(Baran, 2011: 100-101).
Dunia tulis menulis merupakan lapangan kerja terbuka yang selalu siap menerima karyawan baru. Artinya orang yang mempunyai kemampuan menulis bisa menghidupi dirinya melalui tulisan-tulisannya. Menulis disamping menjadi sarana dakwah bil qalamjuga dapat mendatangkan penghasilan (honorarium tulisan), popularitas (keterkenalan), dan sarana komunikasi efektif dengan khalayak untuk mempublikasikan ide-ide, opini, atau pemikiran tentang berbagai masalah. (Romli, 2005: 131-132).
Menurut Fauzil Adhim (penulis buku best seller,Kupinang Engkau dengan Hamdalah),menulis dapat menjadi profesi yang memberikan kesejahteraan lebih, dengan syarat harustotal dan profesional. Artinya jika seseorang bisa menulis sesuatu yang penting dan bermanfaat,serta dikemas dengan bahasa yang mudah diterima masyarakat luas maka peluang untuk mendapatkan royalti besar tidak sulit. Prasyarat utama agar menjadi penulis yang berhasil, antara lain fokus pada satu bidang kajian,karena itu berkaitan denganpersonal branding atau kepakaran dalam satu masalah. Selanjutnya, menulis sesuatu yang penting dalam buku,sehinggasebuah bukudibutuhkan dan dijadikan rujukan banyak orang.Nilai penting suatu karya bisa jadi hal yang obyektif, tetapi karya yang mengutamakan kualitas danout of the box atautidak mengikuti tren biasanya digemari oleh pembaca.Berikut ini perhitungan ekonomi Fauzil Adhim terhadap novelnya Kupinang Engkau dengan Hamdalah.Novel tersebut sudah cetak ulang ke-26 dengan sekali cetak minimal 10.000 eksemplar. Jika harga buku Rp 20.000 sedangkan royaltinya 10%, sejumlahitulahpenghasilan Fauzil. Melalui menulis,Fauzildapat mencukupi kebutuhan hidup dan menabung.Royalti merupakan salah satu sistem pembayaran honorarium kepada penulis. Menurut Siswanto dari Penerbit Tiga Serangkai, terdapat dua sistem yang selama ini dipakai untuk memberi penghargaan kepada para penulis. Pertama,dengan sistem royalti, honorarium dibayarkan sesuai jumlah buku yang terjual per tiga atau enam bulan. Kedua,sistem beli putus, artinya honor diberikan diawal kontrak, namun tidak mendapatkan royalti.Siswanto menambahkan jika hingga saat ini penerbit Tiga Serangkai masih terus mencari naskah-naskah dari penulis luar yang bersifat buku teks, panduan, agama, dan aneka tema lainnya. Banyak naskah yang dikirimkan oleh penulis, namun yang isinya benar-benar berkualitas masih sedikit. Karena itu, peluang menjadi penulis masih sangat terbuka.[8]


















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dakwah Bil Qalam merupakan salah satu metode dakwah yang sangat besar peranannya dalam menyebarluaskan islam. Dalam berdakwah, seorang da’i menyebar luaskan ajaran islam dalam bentuk tulisan, diantaranya, melalui buku, majalah, surat kabar, karya tulis, dan dan karya sastra, atau bahkan melalui internet. Namun sayangnya, aktivis dakwah bil qalam ini masih terbatas. Kurangnya minat dalam melakukan Dakwah Bil Qalam ini merupakan salah satu faktor penghambat berkembangnya dakwah tersebut.














Daftar Pustaka
Achmad, Amrullah. 1985. Dakwah Islam dan Perubahan Sosial.Yogyakarta: PLP2M.
Kasman, Suf. 2004. Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an. Jakarta: Teraju.
Muriah, Siti. 2000. Metodologi Dakwah Kontemporer.
Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Sulthon, Muhammad. 2003. Desain Ilmu Dakwah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syaikh, Ali Mahfudz. 1979. Hidayah al- Mursyidi. Kairo: Dar  Al-I’tisham.
Yasir Maqosid, 2007, “Writepreneurship, Menjadi Kaya dari Menulis,” http:// penerbitanbuku. Wordpress.com/category/penulisan/page/2/akses pada 25 November 2014pukul 12.16 AM.


[1] Siti Muriah, Metodologi Dakwah Kontemporer, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000) hlm 1-2.
[2] Ali Syaikh Mahfudz, Hidayah al- Mursyidi, (Kairo: Dar Al-I’tisham, 1979) hlm 17.
[3] Amrullah Achmad, Dakwah Islam dan Perubahan Sosial, (Yogyakarta: PLP2M, 1985)hlm: 2-3.
[4] Muhammad Sulthon, Desain Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2003), hlm 18-19.
[5] Suf Kasman, Jurnalisme Universal: Menelusuri Prinsip-Prinsip Da’wah bi Al-Qalam dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Teraju, 2004) hlm: 119.
[6] http://eprints.walisongo.ac.id/4810/1/101211053.pdf
[7] https://kistiniyahauliya.wordpress.com/perihal/makalah-3/
[8] Yasir Maqosid, 2007, “Writepreneurship, Menjadi Kaya dari Menulis,” http:// penerbitanbuku. Wordpress.com/category/penulisan/page/2/akses pada 25 November 2014pukul 12.16 AM.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Psikologi Dakwah (Karakteristik Manusia)

Makalah Kerajaan Demak dan Kerajaan Pajang

Makalah Fiqih Shakat Sunnah